Yunani 2004, Ketika Keajaiban Menjadi Nyata

0
57
Foto Source: agonasport

Tim nasional sepakbola Yunani dikenal sebagai tim medioker. Para pemain dari negara ini jarang menjadi pesepakbola top. Tapi fanatisme sepakbola di negeri para dewa ini sangat tinggi, yang sifatnya partisan. Orang-orang Yunani mendukung klub seperti Olympiakos, Panathinaikos, dan AEK Athens dengan militan, tetapi tidak pada sepakbola nasionalnya. Karena itu, pelatih gaek asal Jerman Otto Rehhagel datang ke Yunani pada 2001 dengan target mempersatukan sepakbola nasional Yunani dan membuatnya berbicara banyak di pentas Eropa.

Ketika Rehhagel datang, Yunani punya pengalaman buruk gagal tiga kali di babak kualifikasi Euro  1996, Piala Dunia 1998 dan Euro 2000. Sebelumnya Yunani berpartisipasi di Piala Dunia 1994, ajang internasional pertama yang berhasil ditembus Yunani. Tetapi di kompetisi itu, Yunani menjadi bulan-bulanan tim lain. Yunani dibantai 0-4 oleh Argentina dan Bulgaria, serta dikalahkan 0-2 dari Nigeria.

Oleh karena itu, ketika Rehhagel berhasil membawa Yunani lolos ke putaran final Euro 2004, targetnya tak muluk-muluk. Cukup memenangkan satu pertandingan saja. Padahal pada babak kualifikasi Euro 2004, Yunani tampil mengagumkan dengan tak terkalahkan di 15 pertandingan. Bahkan Yunani bisa menang di Spanyol.

Di pertandingan pembuka, Yunani berhasil mengalahkan tuan rumah Portugal yang ketika itu memiliki Cristiano Ronaldo belia. Sayap kiri mereka Vasilis Tsiartas menyebut kemenangan tersebut membuat target tercapai dan para pemain ‘merdeka’ dan tanpa beban. Di pertandingan kedua mereka berhasil menahan Spanyol dengan skor 1-1. Pada pertandingan ketiga mereka dikalahkan Rusia dengan skor 2-1, tetapi untungnya Portugal mengalahkan Spanyol sehingga Yunani lolos dengan status runner up grup.

Di babak perempat final Yunani bertemu Perancis yang bertabur bintang seperti Zinedine Zidane, Thierry Henry, Robert Pires, Lilian Thuram, dan Bixente Lizarazu. Rehhagel memerintahkan bek Giourkas Seitaridis mengawal ketat Henry dan hasilnya Yunani menang dengan skor 1-0 lewat gol Angelos Charisteas.

Di babak semifinal mereka bertemu Republik Ceko yang juga lebih diunggulkan. Saat itu Ceko dihuni sejumlah nama yang tengah naik daun seperti Pavel Nedved, Jan Koller, dan Milan Baros. Lag-lagi Rehhagel berhasil mengatasi Ceko dan membawa Yunani menang dengan skor 1-0. Gol Yunani diciptakan Traianos Dellas pada babak pertama babak perpanjangan waktu. Gol Dellas tersebut menjadi satu-satunya gol yang lahir dari sistem silver goal yang pernah diterapkan di Euro ini.

Di babak final, Yunani akan kembali bertemu sang tuan rumah, Portugal. Beberapa hari jelang final para pemain Yunani berkumpul pada sesi latihan dan suasana kekeluargaan terbangun. Padahal sejumlah konflik sempat melanda skuad ini di ajang Euro tersebut.

Dua kiper Antonios Nikopolidis dan Konstantinos Chalkias tidak saling berbicara karena memperebutkan status kiper inti. Gelandang Angelos Basinas bersitegang dengan federasi sepakbola Yunani perihal bonus. Para pemain juga sempat tidak senang dengan Rehhagel karena dinilai terlalu memberi keistimewaan kepada bek Michalis Kapsis Hal tersebut membuat Vassilios Tsiartas kecewa karena tidak mendapat tempat di skuad.

Tetapi momen final Euro menghapus semua konflik tersebut. Para pemain akrab dalam suasana kekeluargaan. Tsiartas menyebut, “Kami berbicara satu sama lain karena kami tahu ini satu-satunya kesempatan bagi kami untuk membiat sejarah. Kami tahu kami tidak akan bisa melakukan hal ini lagi.”

Pada hari pertandingan, 15 ribu pendukung Yunani bersorak di Stadion Da Luz setelah Charisteas mencetak satu-satunya gol di pertandingan tersebut dan membawa Yunani mewujudkan keajaiban, menjuarai Euro. Meski juara, Yunani dikritik karena memainkan sepakbola negatif sehingga penyelenggaraan Euro 2004 dinilai penyelenggaraan terburuk dalam sejarah.


Rehhagel memang dikenal punya visi yang sangat mengutamakan pertahanan. Di kompetisi ini, ia menggunakan empat atau lima bek di setiap pertandingan. Bahkan rata-rata tekel yang dilakukan pemain Yunani adalah 48 per pertandingan. Tetapi Rehhagel juga dipuji karena ia bisa membangun tim yang solid di tengah skuad yang berasal dari klub yang berbeda-beda. Pemain kunci Yunani yang berasal dari klub top Eropa saat itu hanya tiga: Dellas (AS Roma), Giorgios Karagounis (Inter Milan), dan Charisteas (Werder Bremen). Rehhagel benar-benar berhasil mewujudkan keajaiban menjadi nyata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here