Sriwijaya FC, Klub Fenomenal yang Kini Turun Kasta

0
57
Foto Source: wordpress

Jika merunut pada jejak sejarah, Sriwijaya FC bisa dibilang sebagai salah satu klub besar di Indonesia. Prestasi klub berjuluk Laskar Wong Kito ini terbilang cukup mentereng di persepakbolaan nasional. Tapi sayangnya, tahun ini mereka harus bermain di Liga 2, setelah terdegradasi musim lalu. 

Bermain di Liga 2 musim 2019, tim racikan Kas Hartadi sukses menjadi juara paruh musim dengan koleksi 21 poin hasil enam kali menang, tiga bermain imbang serta dua kali menelan kekalahan. 

Degradasi tim yang bermarkas di Palembang itu tak terlepas dari krisis finansial yang mendera klub serta masalah internal yang melilit klub itu. Bahkan gaji pemain pun sempat tertunggak sehingga muncul wacana penjualan klub. 

Menjelang kompetisi kasta kedua di Liga Indonesia bergulir, manajemen berhasil memangkas krisis. Dan, hasilnya, Laskar Jakabaring bisa mengarungi liga hingga bisa bertahta di puncak klasemen sementara. 

Siswanto dkk menargetkan segera kembali ke habitatnya di Liga 1 musim depan. Upaya ke sana terus dimatangkan oleh manajemen klub yang punya sejarah fenomenal di Indonesia.  

Memang, berdasarkan informasi yang dikutip dari berbagai sumber, pada 2007, Sriwijaya FC memiliki pencapaian fenomenal sekaligus sejarah baru sebagai klub yang meraih double winner atau dua tropi. Kala itu, Sriwijaya FC berhasil menjuarai Liga Indonesia dan Coppa Indonesia pada tahun yang sama. 

Setahun kemudian, Sriwijaya FC mampu mempertahankan gelar Coppa Indonesia, namun trofi Liga Indonesia harus terlepas. Lalu, pada musim 2009-2010, Sriwijaya FC lagi-lagi mampu memenangi Coppa Indonesia, yang kala itu sudah berganti nama menjadi Piala Indonesia. 

Torehan Laskar Wong Kito yang memenangi tiga Piala Indonesia secara berturut-turut adalah yang pertama kalinya terjadi di sepakbola tanah air. Deretan prestasi tersebut langsung menjulangkan nama Sriwijaya FC sebagai salah satu klub elite Indonesia. 

Hebatnya lagi, pada 2012, Sriwijaya FC sukses kembali menjuarai Liga Super Indonesia. Sederet capaian prestasi itu pun membuat masyarakat Palembang, Sumatera Selatan semakin jatuh hati kepada Sriwijaya FC. 

Sejarah Klub 

Meski warga bumi Sriwijaya kadung cinta, tapi sesungguhnya, tim ini tidak lahir dari rahim bumi Palembang. Itu berarti, pada awalnya, klub ini memang bukanlah tim asli yang lahir dari Sumatera Selatan. 

Jika kita telusuri sejarah berdirinya Sriwijaya FC maka kita akan memulai dari tahun 1976 dimana Persijatim (Persija Timur) berdiri sebagai perserikatan sepakbola di Jakarta Timur. Ketika itu, nama resmi mereka di kompetisi PSSI adalah Persijatim Sriwijaya FC.

Memulai kompetisi di kompetisi perserikatan PSSI baru pada tahun 1987 Persijatim promosi dari Divisi II ke Divisi I Perserikatan PSSI. Pada tahun 1991 Persijatim masuk ke Divisi Utama Perserikatan PSSI. Dengan prestasi yang tidak terlalu bersinar, boleh dibilang Persijatim hanya sebagai klub “numpang lewat”. 

Nama yang kalah besar dari si abang yaitu Persija Pusat  dan perhatian seadanya dari Pemda DKI Jakarta menjadikan Persijatim tenggelam. Bersama 3 (tiga) Persija lainnya yaitu Persija Barat, Persitara dan PSJS keberadaan Persijatim tidak lebih dari perkumpulan sepakbola kampung.

Tahun 2001 Persijatim “hijrah” dari Jakarta Timur ke Solo menggantikan posisi Pelita Jaya yang hengkang dari Solo ke Cilegon. Sebagai tim “nomaden’ sambutan warga Solo lumayan antusias. Pasoepati, kelompok supporter pendukung Pelita Solo, menyambut kedatangan Persijatim dan akhirnya menjadi suporter Persijatim.

Persijatim berubah nama menjadi Persijatim Solo FC. Pada tahun 2004 karena di tahun itu Persijatim dibeli oleh Pemda Sumatera Selatan dengan harga Rp 6 milyar rupiah.

Dari sinilah mulai lahir Sriwijaya FC dengan nama Persijatim Sriwijaya FC. Namun, setelah pengalihan status, secara resmi Sriwijaya FC memutuskan menjadikan klub tersebut berdiri pada 23 Oktober 2004.    

Awal keputusan mengambil alih Persijatim Solo FC menjadi Sriwijaya FC adalah karena keberhasilan Provinsi Sumatera Selatan menjadi tuan rumah PON XIV pada tahun 2004. Fasilitas dan arena PON XIV dianggap mubazir bila tidak dimanfaatkan. 

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, yang saat itu dipimpin Gubernur Syahrial Oesman, memutuskan membeli klub sepakbola agar Stadion Gelora Sriwijaya bisa dipergunakan. Terlebih, dana pembangunan stadion tersebut memakan biaya hingga miliaran rupiah. Dengan adanya tim sepakbola, Gelora Sriwijaya tidak mubazir pembangunannya. Nah kan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here