Ronny Pattinasarany, Pemain, Pelatih dan Komentator

0
582


Tak banyak mantan pemain bola di Indonesia yang menjadi pelatih dan komentator. Di antara yang langka itu, muncullah nama Ronny Pattinasarany. Dia adalah salah satu pemain terbaik dan legenda di nusantara. 

Pria yang bernama lengkap Ronald Hermanus Pattinasarany yang lebih dikenal dengan nama Ronny Pattinasarany, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 9 Februari 1949. Kegesitannya membuat dia dijuluki “Sang Macan Lapangan” karena selalu siap menjemput bola di mana pun berada.

Memang Ronny adalah salah satu pemain sepak bola legendaris, sekaligus pelatih sepak bola yang memiliki jam terbang tinggi di Indonesia. Pada masa-masa jayanya, ia mendapatkan banyak permintaan untuk bergabung dengan klub-klub sepak bola papan atas.

Dikutip dari berbagai sumber, diceritakan, sejak kecil Ronny memang terobsesi untuk menjadi bintang sepak bola. Dengan adanya dukungan dari sang ayah, Nus Pattinasarany, ia berhasil mewujudkan impiannya. 

Pada tahun 1970 — 1980, Ronny Pattinasarany menjadi salah satu orang yang ikut melambungkan nama tim nasional Indonesia. Ronny memulai kariernya sebagai pemain bola dengan bergabung di Klub PSM Junior (1966). 

Setelah beberapa kali berpindah klub, pada tahun 1968, ia berhasil menembus level senior “Ayam Jantan dari Timur” di tim PSM Makassar. Dari Makassar, Ronny pindah ke klub Galatama, Warna Agung (1978 — 1982). 

Di sinilah, kariernya mulai menanjak dan lolos menjadi kapten timnas. Pada tahun 1982, Ronny berpindah ke klub Tunas Inti. Setahun kemudian, ia memutuskan untuk pensiun sebagai pemain dan beralih profesi sebagai pelatih.

Ronny melatih beberapa klub antara lain Persiba Balikpapan, Krama Yudha Tiga Berlian, Persita Tangerang, Petrokimia Gresik, Makassar Utama, Persitara Jakarta Utara, dan Persija Jakarta.

Prestasinya yang gemilang terbukti ketika ia menggawangi Petrokimia Putra dan mempersembahkan beberapa trofi bagi klub tersebut. Saat ini, klub tersebut sudah melebur dengan klub Gresik United (GU). 

Ronny membawa Petrokimia meraih Juara Surya Cup, Petro Cup, dan runner-up Tugu Muda Cup. Selain itu, Ronny juga pernah menjabat menjadi Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI (2006), Wakil Ketua Komdis (2006), dan Tim Monitoring Timnas (2007).

Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menyabet beberapa penghargaan seperti Pemain All Star Asia (1982), Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981), Pemain Terbaik Galatama (1979 dan 1980), dan Medali Perak SEA Games (1979 dan 1981).

Sayang sekali, di balik kesuksesannya dalam karier, Ronny harus menelan pil pahit yang datang dari anak-anaknya yang terjerat narkoba. Karena “urusan” keluarga itu, ia segera memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang pelatih, dan mendekatkan diri serta membimbing anak- anaknya. 

Ia meletakkan jabatannya sebagai pelatih Petrokimia dan berkonsentrasi untuk membantu penyembuhan kedua anaknya, Henry Jacques Pattinasarany (Yerry) dan Robenno Pattrick Pattinasarany (Benny). Ronny tetap sabar dan penuh kasih membimbing anak-anaknya. Akhirnya, kedua anaknya berhasil diselamatkan dan dipulihkan.

Setelah badai berlalu, Ronny kembali terjun ke dunia sepak bola, dunia yang membesarkan namanya. Meskipun bukan sebagai pelatih lagi, namun ia aktif dalam kegiatan yang mendukung kemajuan sepak bola Indonesia, seperti menjadi Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI (2006), Wakil Ketua Komdis (2006), dan Tim Monitoring Timnas (2007).

Selain sebagai pelatih, Ronny juga sering menjadi komentator sepakbola di stasiun televisi di tahun 90-an. Analisa pertandingan bola yang disampaikannnya juga menarik karena dia sebagai mantan pemain bisa memaparkan analisa secara teknis dan strategi bermain bola, tidak hanya analisa data statistik sebagaimana komentator yang berprofesi sebagai wartawan.

Ronny yang termasuk perokok berat itu terganggu oleh penyakit yang menggerogotinya. Dia terserang kanker hati sehingga sejak bulan Desember 2007, Ronny harus menjalani pengobatan di Guangzhou dan sudah empat kali ke kota yang terletak di China tersebut. Ia meninggal di Jakarta karena penyakit tersebut, pada 19 September 2008. 

Meski telah tiada, figurnya tetap terpatri di dalam benak dan hati keluarga dan bangsa Indonesia, khususnya di ranah persepakbolaan Indonesia. Apalagi, Ronny acap kali mengisi acara-cara sepakbola di sebuah stasiun tivi swasta nasional. Analisa-analisanya bukan sekadar membuka kita statistik, tapi dia sudah pernah melakoni sendiri apa yang dia komentari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here