Ramang, Pemain Makassar yang Bikin Soviet Kecut

0
148
Foto Source: gilabola


PSM Makassar baru saja menjadi kampiun Piala Indonesia. Ini tropi pertama mereka setelah tanpa piala dalam 19 tahun terakhir dalam kompetisi resmi.  PSM menang atas Persija Jakarta dalam laga final, di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, Selasa (6/8). 

PSM Makassar ini punya banyak julukan. Juku Eja, Ayam Jantan dari Timur hingga berjuluk Pasukan Ramang. Julukan terakhir menarik. Ramang. Siapa sebenarnya pria yang bernama lengkap Andi Ramang itu?

Mungkin Ramang menjadi nama asing untuk para pencinta bola tanah di era milenial. Tapi, bila kita menelusuri sejarah, pria ini adalah salah satu pemain Indonesia yang pernah mencicipi kerasnya piala dunia. Kehebatannya seperti pesulap yang mampu melakukan sihir di atas lapangan. Goal-Goalnya bahkan membuat Ramang sangat ditakuti lawan.

Ramang lahir di Barru Sulawesi Selatan 24 April 1924 silam. Kecintaan akan sepakbola membawa ia menjadi pesepakbola terkenal pada 1950-an.  Tak hanya itu, dia juga dapat dikatakan pesepakbola yang membawa kesuksesan bagi Makassar. Bagaimana tidak, dirinya yang berposisi sebagai striker ini mampu membawa PSM menapaki tangga juara pada masa Perserikatan.

Padahal Ramang bertubuh kecil untuk ukuran pemain bola. Namun, itu bukan penghalang baginya. Bahkan, ada juga pemain top Eropa bertubuh kecil yang dibekali skill jempolan. Begitu juga dengan pria Makassar itu. Meski posturnya kecil namun punya teknik olah bola yang menakjubkan. 

Dia, selain jago dalam melewati lawan, juga sering sekali menciptakan gol arkrobatik dengan salto. Karena hal tersebutlah tubuh kecil Ramang tidak menjadi sebuah kelemahan saat bermain sepak bola. Pernah suatu ketika, Indonesia bermain di Olimpiade di Australia. Pemain Uni Sovyet harus mengawal Ramang dengan dua sampai empat pemain untuk dapat menghentikannya.

One Man One Club 

Sebagai pemain bola, Ramang tergolong “setia”. Terbukti dia tak tergoda dengan pengaruh uang dan prestasi klub lain. Makanya dia setia dengan PSM Makassar. Sejumlah tawaran besar bahkan dengan berani ditolak untuk tetap berseragam merah. Hampir 21 tahun Ramang bermain untuk tim tersebut. Sudah banyak prestasi yang ditorehkan oleh dirinya, dari mulai juara di era Perserikatan, top skor dan bahkan menjadi pemain terbaik. Kehebatan Ramang untuk bertahan pada satu tim tentunya hanya dimiliki oleh segelintir pemain saja.

Kehebatan Ramang tentu tidak hanya saat di klub saja. Pasalnya pemain ini juga menjadi andalan Timnas Indonesia saat pertandingan internasional. Di tengah ketidak stabilan paska merdeka sepak bola Indonesia berkembang pesat. 

Tahun 60-70an kiblat olahraga ini berada di Indonesia, kehebatan Ramang dan rekan-rekan membuat negara kita sangat disegani. Dan pada saat itu Ramang hadir sebagai aktor yang sering menentukan hasil lewat gol-golnya. Tercatat saat Timnas menjalani partai Internasional dirinya jarang terlewat untuk menceploskan bola ke dalam jala musuhnya.

Berita kehebatan Ramang tidak hanya terdengar di daerah Indonesia dan sekitarnya saja. Pada tahun 2012 secara mengejutkan FIFA sebagai induk terbesar sepak bola dunia, mengeluarkan artikel membahas pemain ini. Hebatnya lagi dirinya merupakan orang pertama Indonesia yang diangkat ceritanya oleh organisasi tersebut. 

Dalam unggahan tersebut FIFA menceritakan bagaimana kehebatan Ramang, yang disebut mampu membawa Indonesia meraih banyak kemenangan. Hal ini tentu suatu yang membanggakan karena jauh sebelum sepak bola kita maju seperti sekarang negara kita sudah diakui oleh dunia.

“Jika Uni Soviet belum tahu siapa Ramang sebelum laga tersebut, mereka tentu saja memberi perhatian padanya menjelang laga ulangan.  Begitu besar perhatian mereka (kepada Ramang) (pada laga ulangan itu) Kachalin memerintahkan (Igor) Netto, playmaker tim (Uni Soviet), agar tampil dengan peran lebih defensif untuk menetralisir dampak pemain Indonesia bernomor 11 (Ramang). (Taktik) itu ada hasilnya. Uni Soviet menang 4-0,” tulis laman FIFA.

Dieluh-eluhkan sebagai pemain bola tidak membuat hidupnya berakhir bahagia. Pasalnya di akhir karirnya Ramang harus hidup serba pas-pasan. Setelah keluar dari dunia sepak bola dirinya memilih profesi sebagai pelatih yang mendapatkan gaji tidak banyak jumlahnya. 

Derita pemain yang pernah berprofesi sebagai tukang becak dan kernet bus ini semakin berat, tak kala saat sepak bola Indonesia berhenti karena kasus Gestapu dan kekacauan dimana-mana. Mengandalkan hidup hanya dengan olahraga tersebut, membuatnya tidak mampu untuk mendapatkan pekerjaan lain. 

Akhirnya di masa pensiun dirinya harus hidup di bawah garis kemiskinan. Suatu yang miris apabila melihat jasa besarnya untuk Indonesia. Miris memang menjadi pemain bola di negeri ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here