Peran sebagai Penyerang Palsu dalam Sepakbola Modern

0
1883
Foto Source: bolazola

Dalam sepakbola, posisi seorang penyerang tengah mempunyai tugas spesifik: mencetak gol, menerima umpan dari para pemain lain, maupun menerima bola untuk digiring ke jantung pertahanan lawan. Peran yang demikian diistilahkan sebagai pemain bernomor sembilan. Tetapi pada sepakbola modern pemain nomor sembilan ini mengalami transformasi peran. Penyerang bukan lagi mengemban tugas spesifik seperti yang telah disebut diatas. Hal ini kemudian memunculkan istilah penyerang palsu atau pemain nomor sembilan palsu (false nine).

Dalam sepakbola modern, penyerang palsu ini dipopulerkan pertama kali oleh Luciano Spalletti kala menangani AS Roma pada tahun 2006. Ketika itu ia kehilangan Antonio Cassano dan Mirko Vucinic sebagai penyerang tengah yang biasa diandalkan untuk mencetak gol. Sebagai ganti, ia mendorong Francesco Totti sebagai penyerang tunggal dalam formasi 4-1-4-1. Tetapi sebagai penyerang, tugas utama Totti bukan untuk mencetak gol. Spalletti menginstruksikan Totti sebagai pemain yang berdiri di antara gelandang dan bek lawan sehingga ia akan mengacaukan pertahanan lawan. Peran itu akan membuka ruang bagi gelandang Roma, kala itu diisi oleh Amantimo Mancini, Simone Perrotta, David Pizzarro, dan Rodrigo Taddei untuk lebih aktif menyerang. Hasilnya, serangan Roma semakin banyak dan bervariasi, dan Totti berhasil mencetak 26 gol di Serie A musim itu.

Peran Totti pada musim itu tidak seperti peran penyerang yang menjadi target utama pengawalan para bek lawan. Totti bergerak dengan lebih bebas sehingga menciptakan ruang bagi gelandang-gelandang lain untuk melakukan serangan. Hal sama dilakukan oleh Pep Guardiola kepada Lionel Messi. Pada sebuah pertandingan melawan Real Madrid, Pep meletakkan Messi sebagai penyerang tengah di formasi 4-3-3. Tetapi perannya bukan menunggu bola di kotak penalti lawan tetapi memancing para bek Madrid untuk keluar dari zonanya. Hasilnya, Barcelona ketika itu menang dengan skor 6-2.

Sir Alex Ferguson juga menggunakan langkah serupa. Pada tahun 2009 ia kerap menggunakan trio Carlos Tevez, Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo sebagai penyerang pada formasi 4-3-3. Tetapi tidak satu pun di antara ketiganya menjadi penyerang pasif yang menunggu bola. Arsene Wenger juga menerapkan hal serupa. Ia memindahkan posisi asli Robin van Persie sebagai sayap menjadi penyerang tengah. Hal ini menunjukkan bahwa sepakbola modern kini lebih membutuhkan penyerang yang bukan bersifat menunggu bola, tetapi aktif memancing pertahanan lawan dan membuka ruang untuk rekan-rekan lainnya.

Penerapan strategi dengan menggunakan false nine ini berhasil karena para bek lawan akan kebingungan antara mengawal penyerang tengah atau membiarkannya dan menunggu serangan datang. Bila para bek tengah mengawal penyerang tersebut, hal ini akan membuka lubang di pertahanan yang bisa menjadi sasaran para pemain lain. Bila para bek memilih untuk menunggu, risiko terlalu besar karena para pemain lawan akan punya banyak ruang untuk menyerang lawan.

Pada perkembangannya strategi ini mulai terbaca oleh para pelati sepakbola. Salah satu rumus paling umum untuk mengantisipasinya adalah dengan menggunakan dua gelandang bertahan yang disebut double pivot dalam formasi 4-2-3-1. Dalam formasi ini, tugas mengawal pemain yang memerankan false nine adalah dua geladang bertahan. Hal ini akan menyebabkan jarak antara bek dengan gelandang bertahan terlalu dekan dan tim tersebut akan menumpuk pemain di daerah pertahanan. Strategi ini kemudian diberi istilah ‘parkir bus’. Hal ini pernah sukses dilakukan Chelsea ketika menyingkirkan Barcelona di babak semifinal Liga Champions tahun 2012.

Akan tetapi, dalam sejarahnya strategi false nine ini sudah diterapkan pada tahun 1930an. Adalah Matthias Sindelar, pemain tim nasional Austria yang memerankannya pertama kali. Sindelar tidak memiliki fisik yang baik sebagai penyerang tengah. Tetapi ia punya kreativitas dan kemampuan menggiring bola yang baik. Oleh karena itu meski ia berposisi sebagai penyerang tengah, perannya adalah untuk membuka ruang bagi para rekannya dalam melakukan serangan. Pada tahun 1950an, penyerang Hungaria, Nandor Hidegkuti juga memerangkan false nine di tim nasionalnya.

Sam Tighe pernah menulis sembilan penyerang palsu terbaik yang pernah ada di dalam sepakbola yakni Totti, Messi, Sindelaar, Ezequiel Lavezzi, van Persie, Tevez,  Dennis Bergkamp, Hidegkuti dan Johan Cruyff.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here