Olympiakos-Panathinaikos, Permusuhan Abadi Sepakbola Yunani

0
56
Foto Source: edition.cnn

Yunani adalah pusat peradaban kuno dunia. Ibukotanya, Athena, menjadi salah satu tempat bersejarah terpenting di dunia. Dari negara ini lahir-lahir filsuf-filsuf dunia seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Tetapi Yunani bukan hanya dikenal karena itu. Sepakbola di negara ini juga terkenal fanatis. Dua klub terbesar di negara ini adalah Olympiakos dan Panathinaikos. Keduanya dikenal sebagai musuh abadi sehingga pertandingan keduanya kerap disebut Derby of Eternal Enemies.

Olympiakos dan Panathinaikos bukan sekedar derby sepakbola. Keduanya juga simbol rivalitas sosial, kultural, dan regional di Yunani. Olympiakos berasal dari kota pelabuhan bernama Piraeus, oleh karena itu klub ini dinamakan Olympiakos Piraeus. Sementara Panathinaikos lahir dan bermarkas di pusat kota Athena.

Secara historis, Piraeus dan Athena adalah dua kota terpenting dalam sejarah Yunani Kuno. Mulanya dua kota ini terpisah meskipun jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 10 kilometer. Pada tahun 1832, Athena dijadikan ibukota Yunani modern. Hal itu membuat Piraeus yang sebelumnya merupakan kota sepi berubah menjadi kota padat penduduk. Bahkan banyak pengungsi yang masuk ke Piraeus pasca perang Yunani-Turki. Kepadatan penduduk ini lama kelamaan menyatukan Piraeus dan Athena. Piraeus kini menjadi salah satu distrik di ibukota Athena.

Panathinaikos lebih dulu berdiri dari Olympiakos. Klub ini dibentuk oleh Giorgios Kalafatis pada 3 Februari 1908 dan menjadi salah satu klub tertua di Yunani. Kalafatis membentuk klub tersebut karena di Eropa saat itu sedang ada tren pembentukan klub baru. Klub ini kemudian identik dengan masyarakat kelas atas. Pelatihnya didatangkan dari Inggris. Logo klub ini sendiri menggunakan daun Shamrock dari Irlandia. Hal ini menimbulkan kebencian dari orang-orang Piraeus karena mereka membanggakan simbol negara lain.

Olympiakos (nama ini diambil dari nama raja sepakbola Yunani) kemudian dibentuk oleh kelas pekerja. Mereka adalah pekerja-pekerja yang bekerja di pelabuhan Piraeus. Olympiakos sendiri dibentuk pada tahun 1925. Tujuan mereka hanya satu: meruntuhkan dominasi Athena.

Perbedaan kelas kemudian berkembang menjadi faktor pemisah pendukung kedua klub hingga saat ini. Bagi orang-orang Athena, orang-orang Piraeus adalah anak haram hasil dari pelaut Amerika dan pelacur pelabuhan. Akibatnya orang-orang Piraeus memendam kebencian pada orang-orang Athena. Rivalitas mulai sengit ketika tahun 1930 pendukung Panathinaikos membawa peti mati berlogo Olympiakos di pertandingan final kejuaraan nasional.

Meski Panathinaikos adalah representasi dari masyarakat kelas atas di Athena, tetapi Olympiakos sedikit lebih sukses dibanding mereka. Kedigdayaan Olympiakos bagi pendukungnya, yakni masyarakat kelas bawah, dianggap sebagai simbol ekspresi atas ketidakpuasan mereka karena ketidakadilan sosial dan politik yang dibuat oleh pendukung-pendukung Panathinaikos di Athena.

Olympiakos hingga kini sudah mengantongi 79 gelar juara, jauh dibanding Panathinaikos dengan 44 gelar juara. Tetapi Panathinaikos lebih unggul untuk urusan kompetisi di tingkat Eropa. Panathinaikos sudah pernah menjuarai Piala UEFA pada tahun 1971 dan dua kali masuk semifinal Liga Champions pada tahun 1985 dan 1996. Sementara prestasi tertinggi Olympiakos di tingkat Eropa hanya masuk perempat final Liga Champions pada tahun 1999.

Untuk urusan pertemuan kedua tim, Olympiakos juga lebih bangga. Klub ini berhasil mengalahkan Panathinaikos sebanyak 81 kali sementara Panathianikos baru mengalahkan Olympiakos sebanyak 50 kali. Di luar itu, ada 68 pertandingan keduanya yang berakhir imbang.

Panasnya persaingan dua musuh abadi ini tercermin dari berbagai kekerasan yang pernah mewarnai pertemuan kedua klub. Pada Juni 1964, pendukung kedua klub berkelahi di Stadion Apostolos Nikolaidis pada pertandingan semifinal Piala Yunani. Stadion mengalami kerusakan parah sehingga pertandingan tidak dapat berjalan. Asosiasi sepakbola Yunani kemudian memutuskan tidak melaksaksanakan pertandingan ulang sehingga gelar juara langsung diberikan kepada AEK Athena.

Pertemuan pada Maret 2002, pendukung Panathinaikos melukai wasit Makis Effhimiadis saat memimpin pertandingan. Ketika itu keduanya bermain imbang dengan skor 1-1. Pada Januari 2008, satu pendukung Olympiakos meninggal dan satu luka parah ketika merayakan kemenangan Olympiakos setelah mengalahkan Panathinaikos dengan skor 4-0 di Piala Yunani. Pada Maret 2010, salah seorang petugas keamanan kehilangan dua jarinya setelah terkena lemparan petasan dari pendukung Panathinaikos.

Para pemain juga tak luput dari kekerasan. Dua pemain Panathinaikos, Djibril Cisse dan Sidney Govou pernah diserang dan dipukul pendukung Olympiakos setelah derby berlangsung di Stadion Karaiskakis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here