Michel Platini, Legenda Sepanjang Masa

0
1303
Foto Source: football365

Prancis sepertinya tak pernah habis stok pemain hebat dan mendunia. Nama-nama semacam Eric Cantona, Zinedine Zidane, Didier Deschamps, Thierry Henry dan lainnya semua dari negara Eropa Barat itu. Kini, Paul Pogba dkk juga sedang menguncang dunia. Lalu, bagaimana dengan Michel Platini.

Memang, Platini superstar global pertama yang dimiliki Prancis. Dia juga seorang playmaker legendaris lain yang sangat berbakat. Meski pada satu sisi, Prancis terlanjur menganggap pemain terbaik mereka adalah Zinedine Zidane.

Pada dasarnya, Platini sangat berjasa dalam menjadikan Prancis sebagai negara adikuasa dalam sepakbola, playmaker bertubuh kecil ini menjalani karier panjang dan penuh kesuksesan bagi klub dan negaranya. Beroperasi sebagai playmaker serang dengan nomor punggung 10, Platini sering menunjukkan performa terbaiknya dalam pertandingan-pertandingan terbesar dan krusial dengan mencetak sejumlah gol penting.

Pemain ini mencapai puncak kejayaannya ketika dia memimpin rekan-rekannya di tim nasional Prancis meraih gelar Piala Eropa pada tahun 1984. Mencetak 9 gol yang luar biasa hanya dalam 5 pertandingan untuk Les Blues di Euro 1984. 

Prestasi-prestasi apik itu membuat Platini menjadi peraih trofi Ballon d’Or tiga tahun berturut-turut (1983, 1984, 1985). Ia juga dianggap sebagai salah satu pemain Juventus terbaik sepanjang masa setelah membawa timnas Prancis meraih trofi internasional utama pertama mereka dan memenangkan gelar liga bersama Juventus dan St. Etienne. 

Setelah menjalani karir yang panjang, Platini akhirnya pensiun ketika dia masih berada di puncak karirnya pada tahun 1987. Sosoknya pun menjadi lagenda, yang  bahkan anak-anak pada masa itu ikut menjadikannya sebagai panutan, termasuk Zidane sendiri. 

Bahkan Zidane mengaku betapa berpengaruhnya Platini. “Ketika aku masih kecil dan bermain dengan teman-temanku, aku selalu memilih menjadi Platini. Aku membiarkan teman-temanku memilih nama idola-idolaku yang lain di antara mereka.”

Gelandang Serang 

Makanya tak mengherankan bila kemudian, namanya abdi di hati bocah-bocah Prancis. Platini yang ketika aktif berposisi sebagai seorang gelandang serang. Ia lahir pada 21 Juni 1955 dengan nama lengkap Michel Francois Platini.

Dia mengawali karier bersama dua klub lokal Prancis, Nancy pada 1972-1979 dan Saint-Etienne (1979-1982). Berkat kepiawaiannya mengolah si kulit bundar, ia akhirnya diboyong raksasa Serie A Juventus. 

Di Juve, Platini adalah seorang pass master dan memiliki kemampuan mumpuni dalam mengeksekusi bola-bola mati. Meski berposisi sebagai gelandang, Platini adalah ancaman konstan bagi lawan. Selama memperkuat Juventus pada periode 1982-1987, Platini hampir selalu menciptakan satu gol dalam setiap dua penampilannya. Koleksi golnya bahkan melampaui torehan dua penyerang handal Juventus waktu itu, Zbigniew Boniek dan Paolo Rossi.

Bersama Klub Kota Turin itu, dia meraih titel bergengsi dengan Juve yakni trofi Liga Champions edisi 1985 atau yang saat itu masih dikenal European Cup. Selain itu, Platini juga mengantarkan Si Nyonya Tua scudetto dua edisi 1983/1984 dan 1985/1986. 

Itu bukanlah satu-satunya trofi persembahan Platini bagi Juventus. Lima musim di Turin, dia juga membantu La Vecchia Signora dua kali meraih Scudetto Serie A, menjuarai Coppa Italia 1983, European Cup Winners’ Cup 1984 dan UEFA Super Cup 1984 serta Intercontinental Cup 1985.

Bersama timnas Prancis, Platini berhasil kampiun Piala Eropa 1984 dan menyabet gelar top skor di akhir kejuaraan dengan 9 gol. Sepanjang karier, dia sudah melakoni 72 pertandingan bersama Les Bleus dan mencetak 41 gol. 

Ia pun menjadi salah satu pemain legendaris Juventus dan juga merupakan pemain yang berpengaruh besar di klub tersebut. Namun demikian, Platini memutuskan pensiun dari sepak bola ketika usianya relatif belum terlalu uzur: 32 tahun. Keputusan tersebut mulai ia pikirkan matang-matang usai laga Juventus – tim yang ia perkuat kala itu – menghadapi Sampdoria dalam lanjutan Serie A musim 1986/1987. Alasannya murni karena urusan ketangkasan fisik: Kecepatan yang berkurang. 

Gagal menjadi pelatih, Platini banting setir menuju jalan administrasi. Dia bergabung dalam organizing committee Piala Dunia 1998 Prancis. Nama Platini kembali harum. Dia tidak hanya menjadikan kejuaraan tersebut salah satu yang tersukses sepanjang masa. Sosoknya juga terangkat karena Timnas Prancis menjadi juara dunia untuk kali pertama dalam sejarah. Sejak 2002, karir Platini di deret birokrasi terus merangkak naik saat dia terpilih menjadi anggota komite eksekutif UEFA dan FIFA. Dan kemudian,  Michel Platini menjadi Presiden UEFA yang lantas menjeratnya dengan tudingan korupsi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here