Mengagumi Bapak Revolusi dari Jerman, Jurgen Klopp

    0
    506
    Klopp

    16 Juni 2020 menjadi hari yang spesial bagi Jurgen Klopp, karena pelatih Liverpool ini merayakan ulangtahunnya ke-53 tahun, umur yang sangat matang bagi seorang pelatih.

    Karier Klopp sebagai pemain memang tidak terlalu bersinar, namun perjalanan kariernya sebagai pelatih, bagaikan cerita novel yang laku berat di pasaran.

    Dia berbeda dengan Pep Guardiola atau Zinedine Zidane yang langsung dipercaya menangani klub besar pada awal kariernya, Klopp hanya mengawali kariernya dengan Mainz 05.

    Lahir di Stuttgart, Klopp tumbuh berkembang sebagai penggemar Stuttgart, meski takdir membimbingnya untuk menjadi legenda Mainz 05, baik sebagai pemain dan pelatih.

    Bersama klub yang dibelanya selama 10 tahun lamanya sebagai pemain, Klopp menjadi sosok yang paling dihormati, hingga dirinya diberi kepercayaan untuk menangani Mainz 05.

    Sejak awal kariernya, Klopp sudah menunjukkan bahwa sukses tidak selalu memiliki jalan yang mulus, kadang kali orang-orang beruntung harus meraih sukses dari ujian terbawah.

    Borussia Dortmund

    Klopp
    Klopp menghentikan dominasi Bayern Munchen di Bundesliga Jerman

    Gaya sepak bola Klopp yang unik mulai mendapatkan pengakuan dunia selama waktunya di Borussia Dortmund, dengan revolusi taktisnya mengubah klub dari yang ‘biasa-biasa saja’ menjadi juara Bundesliga.

    Mantan bos Mainz menandatangani kontrak dengan BVB pada 2008, ketika klub berada pada titik terendah dalam sejarah mereka yang panjang dan termasyhur, setelah menyelesaikan musim di urutan ke-13 dalam musim Bundesliga sebelumnya.

    Klopp, yang sepenuhnya percaya bahwa Dortmund memang raksasa yang sedang tidur dan hanya menunggu waktu untuk bangun, tidak ragu untuk menerima tawaran menjadi pelatih kepala.

    Gegenpressing menjadi label gaya sepak bola yang diusung pelatih bermental baja itu di tahun-tahun berikutnya, sinopsis sempurna dari semua tindakannya.

    Posisi ketujuh di musim pertamanya, diikuti oleh kelolosan ke kompetisi Eropa setahun kemudian, sebelum musim 10/11 menjadi titik kesuksesan Dortmund yang meraih gelar Bundesliga pertama di bawah Klopp.

    Gelar Bundesliga kedua mengikutinya pada 2012, dengan Robert Lewandowski menjadi ujung tombak serangan, dan orang-orang seperti Shinji Kagawa serta Mario Götze menjadi pelengkap.

    Musim 2012/13, meskipun gagal memenangkan liga, Dortmund berhasil mencapai final Liga Champions, setelah beberapa kemenangan spektakuler dalam perjalanan mereka menuju Wembley. Dari gol kemenangan di menit ke-90 melawan Malaga, hingga kemenangan 4-0 atas Real Madrid di semifinal di Westfalenstadion.

    Ini adalah puncak kesuksesan BVB, puncak kesuksesan Klopp, puncak kesuksesan sepak bola Heavy Metal. Apa yang terjadi selanjutnya? Ini adalah akhir yang pahit bagi dinasti Dortmund yang luar biasa di bawah asuhan Klopp.

    Dimulai dari kalah di final Liga Champions melawan Bayern Munchen, hingga perginya beberapa pemain penting. Sampai pada titik ketika laga terakhirnya sebagai manajer Dortmund berakhir dengan kekalahan di final DFB Pokal.

    Liverpool

    Jurgen Klopp sings with Liverpool fans and Champions League trophy ...
    Klopp mengantarkan Liverpool menjadi juara Liga Champions 2018/2019

    Sempat rehat sejenak dari sepak bola, 2015 menjadi tahun terpenting bagi Klopp, sang pelatih pindah ke Liverpool dan terlepas dari harapan dan keriuhan yang datang dengan pengumuman tersebut, pendukung The Reds sadar tidak ada sukses yang instan.

    Namun, di akhir musim debutnya, Liverpool tampil dalam dua final, Liga Europa dan Piala Liga dan kalah di kedua kesempatan itu. Kekalahan yang tidak meruntuhkan mental Klopp.

    Pendekatan taktisnya terhadap permainan, yang didasarkan pada etos kerja dan tekanan, akan membutuhkan waktu lebih lama untuk diimplementasikan, tidak hanya sekedar delapan bulan atau lebih, yang ia miliki saat itu. Akibatnya, penampilan Liverpool yang tidak menentu sering terjadi sepanjang musim 15/16.

    Setiap tahun sejak saat itu, Liverpool di bawah asuhan Klopp terus berevolusi dan meningkat. Selain kepintarannya dalam meramu taktik, Klopp juga dipandang sebagai motivator ulung, yang terus-menerus mendesak para pemainnya untuk bekerja lebih keras.

    Klopp juga tipe pelatih yang selalu bisa mengatasi masalah setiap kali masalah muncul, ia mampu beradaptasi untuk membuat timnya sebaik mungkin.

    Ambil contoh ketika Liverpool gagal mengontrak Nabil Fekir dari Lyon, Liverpool mulai membangun dan menciptakan tim tanpa adanya gelandang yang benar-benar kreatif. Ini adalah revolusi yang telah terbukti, dengan Andy Robertson dan Trent Alexander-Arnold menyumbang 23 assist di Liga Premier.

    Kemampuannya untuk mengidentifikasi target transfer yang tepat semakin menyoroti kualitasnya, dengan pemain-pemain seperti Allison Becker, Virgil van Dijk dan Fabinho semuanya membantu Liverpool menciptakan pertahanan yang solid.

    Ini mungkin bukan lagi sepak bola Heavy Metal, tetapi ada satu tujuan yang ingin dicapai Klopp yakni menambah kekuatan baja ke pertahanan mereka. Pendekatan pragmatis yang baru ini jelas berhasil, dengan Liverpool mengumpulkan 97 poin di Liga Premier musim lalu, hanya kalah satu poin dari Man City.

    Sementara pendekatan baru ini berhasil sukses besar di liga, di Eropa, Klopp membimbing Liverpool untuk kedua kalinya tampil di Final Liga Champions.

    Di final dengan sedikit intrik, Liverpool memainkan permainan yang terkontrol, tidak spektakuler, mereka mengubah penalti di awal laga sebagai momentum. Pendekatan ini mungkin tidak menghasilkan banyak peluang, tetapi itu efektif sampai akhir permainan.

    Itu bukan kemenangan tercantik yang diraih Klopp, tetapi sepak bola yang indah tidak bisa memenangkan final. Ini adalah sisi baru bagi tim Klopp, tegas dan pragmatis, jauh dari sepak bola Heavy Metal.

    Dan pada musim ini, bapak revolusi ini akan segera mencapai tingkat kesuksesan terbesar sebagai manajer Liverpool. Ya, Klopp berpeluang menjadi manajer pertama yang berhasil mengantarkan The Reds menjuarai Liga Premier.