Mauricio Pochettino, Pelatih Muda yang Percaya Pemain Muda

Mauricio Pochettino, Pelatih Muda yang Percaya Pemain Muda

Tahun 2019 menjadi tahun bersejarah bagi Tottenham Hotspur. Klub asal London ini berhasil meraih babak final Liga Champions Eropa pertamanya setelah menang dramatis melawan Ajax Amsterdam di babak semifinal. Tetapi di babak final yang berlangsung di Wanda Metropolitano, Madrid, klub berjuluk The Lilywhites ini harus takluk 0-2 dari Liverpool dan gagal juara. Tetapi prestasi itu sudah sangat membanggakan Hostpur. Sosok di balik pencapaian itu tentu saja sang manajer: Mauricio Pochettino.

Pochettino lahir tahun 2 Maret 1972 dan merupakan mantan pemain sepakbola profesional. Saat bermain ia berposisi sebagai bek tengah. Adapun klub pertamanya adalah Newell’s Old Boys, klub dari tanah kelahirannya, Argentina. Ia bermain di Newell’s sejak tahun 1987. Bakat sepakbola Pochettino yang lahir di Santa Fe ini ditemukan oleh pemandu bakat Jose Griffa dan manajer Marcelo Bielsa saat usianya masih 14 tahun. Bielsa yang ketika itu melatih Newell’s mengandalkan Pochettino di klubnya.

Pada usia 22 tahun ia pindah ke Espanyol. Ia bermain selama sepuluh tahun untuk klub asal Catalan tersebut. Ia bermain sebanyak 275 pertandingan dan bisa mencetak 13 gol. Selama di Espanyol ia berhasil meraih dua gelar Copa del Rey. Selain itu ia juga sempat bermain di dua klub Perancis, Paris Saint-Germain dan Girondins de Bordeaux. Ia juga sempat bermain untuk tim nasional Argentina selama tiga tahun. Ia ikut menjadi skuat Argentina dalam Copa America 1999 dan Piala Dunia 2002. Ia mencatatkan 20 caps.

Pochettino memutuskan pensiun sebagai pemain di usianya 34 tahun pada 2006. Setelah pensiun dari sepakbola, ia memulai karir manajerialnya dengan melatih Espanyol sejak Januari 2009. Ia berhasil mengangkat Espanyol dari jurang degradasi hingga finish di urutan ke 10 pada musim pertamanya. Musim berikutnya ia berhasil membawa klub berjuluk Periquitos itu menduduki urutan sebelas, delapan, dan delapan.

Ia melatih sekitar empat tahun sebelum pindah ke Inggris. Klub pertama yang ia latih adalah Southampton. Pertandingan debutnya berakhir imbang 0-0 saat menjamu Everton pada 21 Januari 2013. Ia berhasil membawa klub berjuluk The Saints itu duduk di peringkat delapan Liga Primer Inggris 2013-2014. Ia berhasil membawa Southampton meraih poin tertingginya dalam sejarah Liga Primer sejak 1992-1993. Kala itu ia sempat mengalahkan Manchester City, Liverpool dan Chelsea.

Setelah semusim memegang Southampton, Pochettino pindah ke Hotspur. Tepatnya sejak 27 Mei 2014. Ia menggantikan Tim Sherwood. Di empat tahun pertamanya ia berhasil membawa Hotspur tiga kali finish di tiga besar klasmen akhir Liga Primer. Hingga kini ia telah menukangi Hotspur selama enam musim.

Dalam melatih, Pochettino dikenal gemar menggunakan strategi pressing sangat tinggi dan bergaya menyerang. Ia menyukai formasi 4-2-3-1 untuk seluruh klub yang pernah ditukanginya. Dengan gaya menyerangnya, ia memerintahkan para pemainnya untuk membangun serangan sejak dari belakang. Ketika kehilangan bola ia meminta pemainnya melakukan intimidasi tinggi untuk mendapatkan bola kembali. Pendekatan ini membawa Hotspur kini menjadi salah satu klub dengan gaya menyerang yang tinggi di Liga Primer.

Oleh karena itu untuk mendukung strateginya, ia menyukai pemain dengan karakteristik cepat dan punya stamina bagus. Hal ini bisa dilihat dari rekrutannya selama di Hotspur seperti Son Heung-min, Moussa Dembele, Victor Wanyama, Lucas Moura, hingga yang terbaru Ryan Sessegnon. Selain itu ia juga manajer yang fokus untuk mempromosikan pemain-pemain muda. Kecemerlangan Dele Alli dan Harry Kane yang kini menjadi pemain kunci di Hotspur tak lepas dari kontribusi Pochettino. Ia juga sering mempromosikan pemain akademi seperti Harry Winks, Kyle Walker-Peters, Kieran Trippier, hingga Oliver Skipp.

Pada musim 2015-2016, Pochettino sempat bersaing dengan Leicester City untuk memuncaki klasmen Liga Primer. Kala itu ia memadukan campuran pemain tua dan muda di Hotspur. Menurut Pochettino pemain muda memiliki rasa lapar, energi dan potensi sehingga layak diberi banyak kesempatan untuk tampil.

Hingga kini, Pochettino telah memenangkan 150 dari total 365 kali ia melatih di tiga klubnya. Sementara ia menerima kekalahan sebanyak 122 kali dan imbang 93 kali. Persentase kemenangan Pochettino sebagai manajer mencapai 41,1%.

Leave a Comment