Kisah Cinderella Claudio Ranieri dengan Leicester City

Kisah Cinderella Claudio Ranieri dengan Leicester City

Liga Primer Inggris musim 2015-2016 mungkin akan menjadi anomali dalam sejarah liga yang disebut sebagai terbaik di dunia tersebut. Dengan nilai pemain yang hanya mencapai 58,2 Juta Poundsterling (sebagai perbandingan: Manchester United membeli bek Harry Maguire seharga 80 Juta Poundsterling pada 2019), Leicester City keluar sebagai kampiun. Sosok yang berada di balik keberhasilan itu adalah manajer mereka: Claudio Ranieri.

Ranieri didatangkan Leicester tanpa ekspektasi yang tinggi. Cukup bertahan saja, jangan degradasi dari Liga Primer. Ranieri sendiri memang tidak asing untuk berjuang bersama klubnya dari jurang degradasi atau promosi. Ia pernah membawa Cagliari dan Fiorentina promosi dari Serie B ke Serie A.

Tetapi sebelum mulai menukangi Leicester pada Juli 2015, ia sempat dipecat oleh tim nasional Yunani pada November 2014. Yunani di bawah Ranieri sempat kalah memalukan dengan skor 1-0 dari Kepulauan Faroe, negara kecil di Eropa yang biasa menjadi lumbung gol lawan-lawannya.

Keberhasilan membawa Leicester lantas menjadi perhatian dunia. David Myatt, profesor dari London Business School, berpendapat bahwa Ranieri menyuntikkan mentalitas juara pada klub sejak ia bergabung. Sebenarnya bibit mentalitas juara Leicester sudah tumbuh sejak akhir musim 2014-2015. Kala itu Jamie Vardy dkk tengah berada di zona degradasi. Tetapi tujuh kemenangan dari sembilan pertandingan terakhir membawa Leicester menghindari degradasi.

Mentalitas juara tersebut berlanjut saat Ranieri datang. Myatt menyebut sebuah klub selalu berada pada dua kondisi: masa bulan madu atau masa krisis. Leicester tengah berada pada masa bulan madu. Masa bulan madu langsung dialami Leicester sejak awal musim 2015-2016. Masa bulan madu itu turut didorong oleh kepercayaan Ranieri terhadap pemain-pemainnya. Ranieri hanya menggunakan 17 pemain di 22 pertandingan pertama musim itu. Bahkan ia menggunakan sebelas pemain intinya sebanyak 87%.

Myatt menjelaskan kepercayaan seorang pemimpin terhadap anak buahnya bisa menjaga momentum masa bulan madu tersebut. Selain itu, tidak menyalahkan anak buah juga menjadi kunci. Leicester sempat kebobolan di menit akhir sehingga kalah dari Arsenal di musim itu. Vardy pernah terkena kartu merah saat bermain imbang 2-2 bersama West Ham. Tetapi tidak sekalipun Ranieri menyalahkan para pemainnya atas kesalahan tersebut. Hal ini membuat Leicester cepat bangkit dan kembali konsisten ke jalur kemenangan hingga menjadi juara.

Sikap rendah hati yang ditunjukkan Ranieri juga menjadi kunci yang membuat hubungan antara para pemain dengannya harmonis. Bahkan setelah juara Ranieri merendah dengan mengatakan, “Saya tak pernah mengharapkan ini (juara) saat saya tiba. Saya laki-laki pragmatis. Saya hanya ingin memenangkan pertandingan dan membantu pemain lebih baik dari minggu ke minggu. Tapi para pemain ini fantastis. Fokus mereka, determinasi, dan semangat membuat semuanya menjadi mungkin. Setiap pertandingan mereka berjuang keras dan saya senang melihat mereka. Mereka layak menjadi juara”.

Empat pemain Leicester yakni Vardy, Riyad Mahrez, N’Golo Kante, dan Wes Morgan masuk dalam sebelas pemain terbaik Liga Inggris musim tersebut. Keberhasilan ini merupakan prestasi terbaik yang pernah diraih klub berjuluk The Foxes (si rubah) ini. Pencapaian yang lebih baik adalah peringkat dua yang mereka raih pada tahun 1929. Keberhasilan Leicester memang sangat mengagumkan dan mengagetkan banyak pihak. Tujuh tahun sebelumnya padahal Leicester masih berada di Liga Satu (divisi ketiga dalam hirarki Liga Inggris).

Selain Ranieri dan pemain, para fans Leicester juga tidak bisa dilupakan. Pada musim itu, Stadion King Power, markas Leicester, dikenal dengan stadion yang memiliki atmosfir penonton paling fantastis. Sekelompok akademisi dari Universitas Leicester sempat mengembangkan seismometer yang bisa mengukur kekuatan gempa bumi. Saat striker Leonardo Ulloa mencetak gol di menit 89 saat Leicester menang 1-0 melawan Norwich City, seismometer mencatat terjadi gempa bumi sekitar 0,3 skala Richter.

Hal itu menunjukkan betapa penduduk Leicester mendukung sepenuhnya The Foxes saat bermain di kandang. Jajaran direksi Leicester juga tak ketinggalan. Dalam setiap pertandingan kandang mereka menyiapkan sekitar 30 ribu papan kartu yang menghabiskan sekitar 12 ribu Poundsterling untuk digunakan fans mendukung Leicester. Bahkan Ketua Leicester juga beberapa kali memberi minuman dan donat gratis bagi seluruh penonton ketika itu.

Leave a Comment