Ketika Porto Mengguncang Eropa

0
461
Foto Source: foxsportsasia

Liga Champions musim 2003-2004 merupakan salah satu musim kejutan dalam sejarah penyelenggaraannya. Pasalnya, dua klub yang berstatus underdog, AS Monaco dari Perancis dan FC Porto dari Portugal, berhasil melenggang hingga babak final. Pada pertandingan puncak yang diselenggarakan di Arena AufSchalke, Gelsenkirchen, Jerman, Porto berhasil menjadi juara setelah menang meyakinkan dengan skor 3-0.

Kejutan Porto tersebut mengguncang Eropa. Porto berhasil menyingkirkan raksasa Inggris Manchester United, Olympique Lyon, dan klub kuat asal Spanyol ketika itu, Deportivo La Coruna pada fase gugur. Di fase grup, Porto sendiri hanya berstatus runner-up di bawah Real Madrid. Porto berhasil menyingkirkan Marseille dan Partizan Belgrade untuk menemani El Real ke fase gugur.

Lantas apa yang membuat Porto berhasil sukses di kompetisi tertinggi Eropa tersebut? Kuncinya adalah taktik dan keberuntungan. Untuk urusan taktik, acungan jempol pantas disematkan kepada pelatih Porto saat itu, Jose Mourinho. Tanpa tangan dingin dari Mourinho, tampaknya sangat kecil kemungkinan Porto bisa bersaing dengan klub-klub besar Eropa lainnya.

Dalam menjalankan taktiknya, Mourinho pun sebenarnya beruntung memiliki sejumlah pemain yang berkualitas. Di barisan belakang, Mourinho memiliki Ricardo Carvalho dan Paulo Ferreira yang bermain konsisten di sepanjang musim itu. Keduanya kemudian ikut pindah ke Chelsea saat Mourinho menjadi manajer Chelsea musim berikutnya.

Di sektor tengah, Mourinho memiliki Deco yang tengah dalam masa keemasannya. Tahun tersebut menjadi tahunnya Deco setelah ia meraih penghargaan Gelandan Terbaik UEFA dan Pesepakbola Terbaik UEFA Tahun 2004. Musim berikutnya, Deco pun hijrah ke Barcelona. Di sektor penyerang, Mourinho hanya mengandalkan Benedict McCarthy, Derlei, dan Carlos Alberto. Ketiganya sebenarnya bukan penyerang papan atas Eropa ketika itu, tetapi karena ditopang oleh pertahanan yang kokoh dan gelandang yang solid, Porto bisa memaksimalkan para penyerangnya dalam mencetak gol.

Mourinho ketika mengandalkan strategi formasi 4-3-1-2. Mourinho mengandalkan dua fullback Paulo Ferreira dan Nuno Valente untuk melakukan overlapping ketika menyerang. Cara ini mirip dengan yang digunakan Liverpool dengan Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson saat menjuarai Liga Champions tahun 2019.

Adapun tiga gelandang di depan bek difungsikan Mourinho sebagai holding midfielder. Ketiganya melindungi dua bek tengah sekaligus menutup ruang yang kosong ketika dua full back melakukan serangan. Mourinho mempercayakan posisi ini kepada Maniche, Costinha, dan Mendes. Ketiganya bekerja dalam sebuah unit, bukan berdasarkan individualitas. Sementara itu Deco menjadi andalan Mourinho untuk menjadi pengatur serangan.

Selain faktor taktik di atas, faktor keberuntungan tak bisa dilepaskan dari perjalanan Porto hingga menjadi juara. Porto mendapatkan lawan-lawan yang relatif setara dengan mereka sementara klub-klub besar banyak yang berjatuhan sejak dini. Hasil undian sebenarnya memberikan Porto lawan terberat di babak 16 besar ketika menghadapi United yang kala itu dipegang oleh Sir Alex Ferguson. Setelah menang 2-1 di kandang, Porto tertinggal 0-1 ketika tandang ke Manchester. Beruntungnya, Porto berhasil mencetak gol di menit ke-90 dan berhasil lolos dengan agregat 3-2.

Di babak berikutnya mereka cenderung mendapat lawan mudah, Lyon. Sehingga Porto dengan mudah bisa menaklukkan Lyon dengan agregat 4-2. Di babak semifinal, Porto berhasil mengalahkan La Coruna dengan agregat 1-0. Gol satu-satunya itu diraih di kandang La Coruna melalui sepakan titik putih.

Keberuntungan berikutnya juga didapatkan Porto di babak final. Sang lawan, Monaco yang ketika itu dilatih Didier Deschamps, harus bermain tanpa kaptennya sekaligus pemain andalannya Ludovic Giuly karena cedera, sehingga memaksa Monaco mengganti formasi andalannya dari 4-3-3 menjadi 4-4-2. Porto akhirnya berhasil mengalahkan Monaco dengan mudah lewat tiga gol tanpa balas dari Carlos Alberto, Deco, dan Dmitri Alenichev.

Hasil itu kemudian melambungkan nama Mourinho ke jajaran pelatih top di Eropa. Ia lantas langsung direkrut Roman Abramovich untuk melatih Chelsea. Mourinho sendiri sebelumnya sudah menunjukkan kualitasnya sebelum menjuarai Liga Champions. Ia juga berhasil memberi dua gelar liga, satu Piala Portugal dan satu Piala Super Portugal untuk Porto. Ia juga sempat membawa Porto tidak terkalahkan dalam 130 pertandingan di Stadion Dragao, kandang Porto. Pada tahun itu, Mourinho betul-betul membawa Porto mengguncang Eropa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here