Fachri Husaini, Maestro dari Pabrik Pupuk

0
560
Foto Source: tempo

Tim Nasional Indonesia usia U-18 berhasil merebut posisi tiga Piala AFF U-18 2019. Keberhasilan itu tak terlepas dari racikan Fachri Husaini. Meski belum berhasil menjadi kampiun, tapi kiprah Garuda Muda patut diapreasiasi. Lalu, siapa dia. 

Pelatih Timnas U-19 ini akrab disapa Fachri. Dia pria kelahiran 27 Juli 1965 di  Lhokseumawe, Aceh. Saat masih bermain, Fachri adalah seorang maestro lini tengah pada era 1990-an. Ban kapten selalu tersemat pada dirinya.

Pada era tersebut, Fachri juga dikenal sebagai bintang tim nasional Indonesia. Tugasnya mengatur irama permainan timnya. Posisinya gelandang. Bukan cuma di timnas, di klub yang pernah dibelanya, ia juga beroprasi sebagai seorang playmaker.

Dalam ranah sepakbola, ia lebih identik dengan tim Pupuk Kaltim karena sembilan musim dia membela PKT (1992-2001). Namun prestasi terbaik Fachry bersama PKT hanyalah finalis Liga Indonesia pada musim 1999/2000. Sebelumnya, ia memperkuat Petrokimia (sekarang menjadi Gresik United), Lampung Putera, dan Bina Taruna. 

Pada tahun 1997, ia tampil membela timnas Indonesia pada ajang SEA Games 1997 di Jakarta. Indonesia yang ketika itu dilatih Henk Wullems bertemu dengan Thailand dalam perebutan medali emas. Sayang, Indonesia gagal di final melawan Thailand. Garuda kalah adu penalti. Fachri sudah menampilkan performa terbaiknya dalam laga itu. 

Menjadi pelatih

Usai puas menjadi pemain. Akhirnya Fachri mengikuti kursus kepelatihan. Ia mengantongi sertifikat C-1. Sempat menjadi pelatih Diklat Manado dan asisten pelatih Bontang, akhirnya ia ditunjuk sebagai asisten pelatih Timnas U-23 dan Timnas senior tahun 2004. 

Saat itu Fachri menimba ilmu langsung dari pelatih timnas Peter Withe. 

Hal itu pula yang membuat dirinya ditunjuk menjadi pelatih Tim PON XVII oleh tuan rumah Kaltim tahun 2008.

Tim racikan Fachri hanya berhasil menjadi juara ketiga saat mengikuti PON XVII di Kaltim. Kondisi tersebut membuat pihak Bontang FC tertarik dan langsung merekrutnya sebagai pelatih kepala. 

Di sini, Fachri hanya membuat Bontang FC tampil menempati posisi 11 dan 13 klasemen dalam dua tahun bergulirnya Liga Super Indonesia. Ia memang dikenal sebagai sosok pelatih yang potensial. 

Kompetisi ISL musim 2010/11 ia memang gagal menyelamatkan Bontang FC dari degradasi. Namun, dedikasi yang diberikannya terhadap klub patut diacungi jempol. 

Di saat krisis keuangan mendera klub dan pembayaran gaji para pemain yang terkatung-katung selama berbulan-bulan, Fachri Husaini tetap setia bersama klub.    

Pada tahun 2014, Fachri ditunjuk oleh PSSI untuk menangani Timnas U-17 dan tahun berikutnya ia menjabat pelatih Timnas U-19. Kegigihannya menjadi pelatih, Fachri Husaini kembali diminta menangani Timnas U-16. 

Fachry mulai memberi bukti. Ia berhasil mengantarkan Timnas Indonesia juara pada turnamen Tien Phong Plastic Cup 2017 yang digelar di Vietnam. Tak hanya juara, Timnas juga menyabet penghargaan lainya. Pemain terbaik (Hamsah Lestaluhu), top skor (Rendy Juliansyah), pelatih terbaik (Fachri Husaini), dan tim paling fair play. 

Dengan keberhasilan ini, banyak pecinta sepakbola tanah air berharap pada pria 51 tahun ini dapat membawa Indonesia juara pada turnamen Piala AFF U-16 2017 di Thailand. 

Mundur 

Sebelum juara di Negeri Gajah Putih, sebenarnya pada akhir April 2016, pria berkepala plontos ini sempat mundur dari dunia sepak bola. Ia ingin fokus pada keluarga serta pekerjaannya di PT Pupuk Kaltim, Bontang.

Ini terjadi akibat Fachri kecewa pada sepak bola Indonesia yang kala itu karut-marut. Akibat situasi yang memanas antara Menpora RI dan PSSI, sanksi FIFA pun jatuh pada akhir Mei 2015. Imbasnya, timnas U-16 dan U-19 yang sudah dilatih Fachri untuk Piala AFF U-16 dan U-19 2015, dibubarkan, karena timnas dilarang beraktivitas di kancah sepak bola internasional. Kondisi ini membuat dia amat kecewa. 

Sanksi FIFA dicabut pada 13 Mei 2016. Fachri tak bergeming. Timnas pun dilatih Eduard Tjong untuk tampil di Piala AFF U-19 2016. Akhir, dia bersedia kembali aktif di sepak bola Indonesia dengan menerima penunjukkan dirinya sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia U-16. 

Selain itu kondisi sepak bola di Tanah Air yang makin kondusif ikut memperkuat niat Fachri kembali ke pentas sepak bola negeri ini. Meski sudah menerima tawaran jadi pelatih Timnas Indonesia U-16 lagi, Fachri mengaku masih memiliki ganjalan. Apalagi bila bukan terkait urusan pekerjaannya di PT Pupuk Kaltim.

Sebagai karyawan, Fachri Husaini menyebut tidak bisa meninggalkan tugas dan kewajibannya di PT Pupuk Kaltim, meski beberapa opsi dimilikinya. Ia kemudian, berkonsultasi dengan keluarga untuk mengambil keputusan terbaik. Ia melatih lagi hingga kini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here