Fabinho dan Arti dari Sebuah Kesabaran

    0
    1052

    Fabinho, gelandang asal Brasil yang kini menjadi gelandang bertahan andalan Liverpool merupakan contoh sempurna dari hasil sebuah kesabaran, sifat yang berlaku di sepak bola.

    Pada akhir Oktober 2018. Fabinho, salah satu pemain yang didatangkan Liverpool dengan harga mahal, baru memainkan dua laga sebagai starter sejak kedatangannya dan pertanyaan serius mulai ditanyakan.

    Apakah gelandang Brasil itu cukup bagus untuk The Reds? Mungkinkah ia menjadi salah satu kesalahan transfer klub yang langka terjadi dalam beberapa tahun terakhir?

    Debutnya melawan Chelsea pada akhir September tidak berhasil menghilangkan ketakutan pendukung Liverpool dan satu-satunya laga dirinya masuk Starting XI Jurgen Klopp datang saat melawan Red Star Belgrade dalam pertandingan kandang Liga Champions yang relatif mudah.

    Hasil gambar untuk fabinho mbappe

    Isu-isu tidak sedap mulai datang dari pers Prancis bahwa Fabinho ‘bosan’ dan melihat jendela transfer Januari sebagai kesempatan untuk bergabung dengan mantan rekan setimnya di Monaco, Kylian Mbappe di PSG.

    Namun, Klopp tetap percaya dengan pemain yang didatangkan dengan bandrol 44 juta poundsterling dan kesabaran Fabinho diawal kariernya bersama Liverpool benar-benar teruji dalam tahap ini.

    “Lihatlah setahun yang lalu dan lihat Andy Robertson sekarang,” kata pelatih asal Jerman itu pada konferensi pers pada saat itu. “Dia memainkan satu atau dua pertandingan pada tahap itu, tidak terlalu banyak, dan kemudian dia menjadi pemain seperti sekarang ini.”

    Klopp mengikuti strategi pengenalan lambat yang serupa dengan Alex Oxlade-Chamberlain dan, jika Anda melihat sedikit lebih jauh, Ilkay Gundogan juga pernah merasakannya saat di Borussia Dortmund.

    Namun dalam hal ini rasanya sedikit berbeda. Robertson datang dari tim Championship, sedangkan Fabinho bermain di semifinal Liga Champions, memenangkan liga Prancis dan menghabiskan biaya transfer yang cukup besar.

    Newcastle United v Liverpool FC - Premier League

    Tetapi, bahkan di tengah keraguan yang muncul, Klopp bersikeras: “Dia memiliki semua kualitas – tekel keras, insting menyerang yang baik, pertahanan bagus, cepat, tembakan bagus, bola mati fantastis, sundulan bagus; semua hal ini. Strategi juga, dia bagus secara strategi di saat yang tepat. Tapi ini sistem yang berbeda. Kami hanya bermain berbeda dan itu selalu membutuhkan waktu.”

    Berbeda dengan Robertson, Oxlade-Chamberlain dan Gundogan di Dortmund, Fabinho juga perlu beradaptasi dengan bahasa, budaya, dan iklim baru setelah pindah dengan keluarga mudanya dari Prancis Selatan ke Inggris Utara.

    Seperti yang dikatakan salah satu pelatih mudanya di awal musim ini, dia adalah karakter yang pendiam, jadi itu akan sulit.

    “Momen untuk beradaptasi, itu tidak mudah,” kata Fabinho kepada ESPN Brasil pada Oktober tahun lalu. “Tetapi saya mencoba belajar dari semua ini, mencoba untuk memberikan yang terbaik selama latihan.”

    Dia terus melakukan hal itu, memenangkan tempat utama dari kegigihannya dan, jika kita melihat Fabinho sekarang, semua kekhawatiran dan pertanyaan itu terasa seperti sejarah kuno. Sekali lagi, pendekatan Klopp terbukti benar.

    Setelah dipaksa untuk memainkan beberapa pertandingan di bek tengah karena krisis cedera, pria asal Campinas bermain sebagai gelandang bertahan di paruh kedua musim lalu, dan ia telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu yang terbaik di dunia dalam posisi tersebut.

    Dengan tanggung jawab lini tengah defensif dipegang teguh oleh Fabinho, pemain asal Brasil ini juga membebaskan Jordan Henderson, yang, bermain sebagai salah satu dari dua ‘nomor delapan’ Liverpool.

    Hasil gambar untuk fabinho barcelona

    Dan, seperti pemain top lainnya, puncak performa Fabinho datang pada saat yang paling penting, dalam comeback ajaib Liverpool melawan Barcelona.

    Mantan pemain Fluminense itu bermain sejak awal, memberikan umpan ke Sadio Mane yang mengarah pada peluang yang menjadi gol pertama dan memperbesar volume Anfield. Fabinho kemudian terlibat dalam pertempuran fisik dengan Luis Suarez. Ketika dia mendapatkan kartu kuning.

    Namun, tanpa terpengaruh, pemain berusia 25 tahun itu terus melakukan pekerjaannya di depan empat bek, mengisi ruang-ruang tempat Messi dapat melakukan keahliannya, melindungi bek tengah dan memotong operan sebelum mereka dapat mencapai depan gawang.

    Dalam penguasaan bola, dia sangat baik, jarang memberikan bola (dia menyelesaikan laga itu dengan akurasi passing 90%) sementara ia juga dapat memberi dampak pada serangan timnya.

    Dalam perayaan di akhir, ia bersama rekan-rekan timnya menyanyikan ‘You’ll Never Walk Alone’ di depan The Kop. Ribuan mil dari tempat ia dilahirkan, ia memandang stadion yang kini menjadi rumahnya.

    Kesabaran Fabinho yang membuahkan hasil juga berdampak pada keluarganya yang kini lebih tenang. Pada hari terakhir musim Liga Premier 2018/2019, Fabinho memposting foto di Twitter tentang dirinya bersama istri dan orang tuanya, semua berseri-seri dengan bangga di lapangan Anfield.

    Delapan tahun yang lalu ia bermain sepak bola semi-profesional di kasta keempat Brasil bagian São Paulo, sehingga meraih pencapaian bermain bagi klub besar seperti Liverpool sangat disyukuri oleh Fabinho.

    Seperti layaknya cerita dongeng, akhir yang indah hadir bagi Fabinho datang pada 1 Juni di stadion Wanda Metropolitano, ketika pemain yang kualitasnya diragukan pada awal kariernya di Anfield, memainkan peran penting dalam keberhasilan Liverpool mengangkat trofi Liga Champions keenam mereka.

    Gambar

    Setelah sampai sejauh ini, ia tentu yakin bahwa ia dapat meraih banyak kesuksesan bersama Liverpool pada masa depan, kesuksesan yang juga tidak terlepas dari kesabaran serta kerja keras Fabinho dalam menghadapi keraguan banyak orang.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here