Empat Alasan Mengapa Premier League Musim 2019/2020 Bisa Jadi yang Paling Subur

0
799
BOURNEMOUTH, ENGLAND - SEPTEMBER 15: Raindrops are seen on a Premier League logo prior to the Premier League match between AFC Bournemouth and Brighton and Hove Albion at Vitality Stadium on September 15, 2017 in Bournemouth, England. (Photo by Mike Hewitt/Getty Images)

Musim kompetisi 2018/2019 berakhir dengan mencatatkan sejarah sebagai musim paling produktif selama pagelaran Premier League (total 1072 gol), setelah kemenangan Crystal Palace dengan skor 5-3 atas Bournemouth pada pekan terakhir melebihi enam gol dari yang tercipta pada pemegang rekor sebelumnya, yaitu musim 2011/2012. Namun rekor tersebut bisa dengan mudah dipecahkan pada tahun ini dan musim 2019/2020 bisa menjadi musim paling subur.

Setelah tiga pekan berjalan, Premier League telah melahirkan 82 gol, tujuh gol lebih sedikit daripada catatan pada pekan yang sama musim lalu, dan pada rasio yang ada sekarang, maka musim 2019/2020 diprediksikan akan melahirkan 1039 gol pada akhir Mei. Namun ini masih sangat awal dan ada sejumlah alasan mengapa rekor baru bisa terpecahkan pada musim ini.

1. Premier League memiliki para pencetak gol yang handal

Hasil gambar untuk joelinton newcastle celebration goal

Pada musim 2018/2019, hanya delapan orang yang mampu mencetak 15 gol atau lebih di Premier League. Hanya empat di antara mereka yang merupakan seorang striker tradisional sebagai ujung tombak, merefleksikan kurangnya potensi dari para penyerang klub papan tengah. Untuk mengatasi ini, sejumlah klub merekrut para striker dengan harga mahal dan banyak dari mereka yang sudah mulai mencetak gol.

Joelinton dari Newcastle United sukses membobol gawang Tottenham Hotspur, setelah Sebastien Haller dari West Ham merobek gawang Watford dua kali, sedangkan Wesley membuka rekening golnya untuk Aston Villa pada laga kontra Everton.

Sementara itu, dwigol Tammy Abraham kontra Norwich City mengindikasikan bahwa dia merupakan peningkatan dari Gonzalo Higuain, striker paling produktif Chelsea pada musim lalu meski hanya melahirkan lima gol, sedangkan Everton masih menantikan unjuk gigi dari Moise Kean dan kemudian masih ada juga Teemu Pukki yang menjadi sensasi pada musim ini.

2. Klub-klub promosi memprioritaskan sepak bola penyerang

Hasil gambar untuk norwich celebration goal premier league 2019

Salah satu pembeda antara musim lalu dan musim ini adalah tim-tim promosinya. Sheffield United, Aston Villa dan Norwich mengutamakan ketajaman di lini serang. Ketiga klub tersebut mengandalkan formasi yang panjang dan lebar, dan memiliki line-up yang sangat menyerang, memprioritaskan penguasaan bola yang cair ketimbang kekakuan pertahanan. Maka bukanlah kejutan jika kesembilan laga yang mereka lakoni telah memproduksi 29 gol sejauh ini.

Pendekatan Sheffield United kini nampak lebih stabil, namun bisa lebih bebas ketika mereka menghadapi musuh yang lebih baik. Villa tidak memiliki gelandang bertahan sama sekali, karena Dean Smith lebih mengandalkan full-back, membuat mereka sangatlah rapuh secara defensif.

3. Manajer yang gemar bertahan tak lagi menjadi tren

Hasil gambar untuk graham potter brighton

Sejumlah permainan terorganisir yang biasa digunakan Steve Bruce dari Newcastle dan Roy Hodgson dengan Crystal Palace kini memperlihatkan hal yang berbeda. Era dari para manajer yang gemar bertahan nampaknya sudah usai, terutama karena klub menyadari bahwa pendekatan defensif mereka akan berujung pada penurunan secara bertahap namun tak terhentikan.

Penunjukkan Graham Potter oleh Brighton & Hove Albion adalah penunjukkan yang semppurna, seiring dengan kesuksesan awal Ralph Hasenhuttle di Southampton setelah sang pelatih asal Austria itu menggantikan Mark Hughes. Hasilnya adalah sudah banyak gol yang mereka ciptakan pada musim 2019/2020.

4. Solskjaer dan Lampard mengundang kekacauan

Hasil gambar untuk solskjaer and lampard

Dua pelatih yang paling kurang berpengalaman adalah dua pekerjaan paling sulit di sepak bola Inggris. Kedua tim yang paling buruk secara bertahan dari enam klub besar Premier League terbukti pada rekor yang ada musim lalu. Pada musim 2018/2019, Chelsea dan Manchester United telah kebobolan 95 gol dan pada saat ini, dengan rasio yang ada, mereka menuju kepada kebobolan 127 gol.

Ole Gunnar Solskjaer tidak terlalu mementingkan pendekatan taktikal semenjak ditunjuk untuk menggantikan Jose Mourinho pada bulan Desember dan ia terobsesi untuk meniru kecepatan dari skuat United era Sir Alex Ferguson pada 90-an, dengan meninggalkan Scott McTominay sendirian patroli di lini tengah.

Sementara itu, Frank Lampard ingin memainkan sepak bola dengan garis pertahanan tinggi, namun tanpa adanya seorang pendisiplin taktik yang seperti yang sering diperlihatkan oleh Pep Guardiola, maka itu membuat timnya dengan mudah dapat ditembus oleh lawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here