Daniel Agger dan Cinta Para Pendukung Liverpool

    0
    642
    Agger Liverpool

    Dalam sepakbola modern, dibutuhkan pemain khusus untuk membuat dirinya disukai pendukung, baik di dalam maupun di luar lapangan. Tapi Daniel Agger tentu berhasil melakukannya di Liverpool.

    Bek tengah asal Denmark adalah pemain yang menjanjikan ketika ia tiba pada Januari 2006, tetapi perubahannya tidak berjalan cepat. Agger membantu timnya meraih kesuksesan Piala FA dan Community Shield dalam tahun pertamanya di Merseyside, dan tidak butuh waktu lama baginya untuk memenangkan hati mereka yang berada di tribun.

    Pindah dengan harga 6 juta poundsterling dari Brondby, dia sebenarnya adalah bek paling mahal dalam sejarah Liverpool pada saat itu. Sementara angka itu sekarang sudah dimusnahkan oleh kedatangan Virgil Van Dijk seharga 75 juta poundsterling, nominal transfer juga menunjukkan seberapa tinggi Rafael Benitez menilai Agger.

    Delapan setengah tahun dan 232 penampilan kemudian, tidak ada keraguan Benitez benar dalam penilaiannya. Waktu Agger di Merseyside mungkin terhambat oleh masalah cedera, tetapi hasratnya untuk Liverpool sebagai klub dan kota menciptakan ikatan yang luar biasa antara pemain dan pendukung.

    Sementara kariernya di Liverpool akhirnya harus terhenti, ia bagaikan cahaya emas yang cerah di masa sulit The Reds, dan karena alasan itu, ikatan cinta antara Agger dan pendukung Liverpool tidak akan pernah putus.

    Tembakan memorable

    Agger meskipun tidak memiliki kecepatan tinggi, kemampuannya untuk membaca permainan tidak ada duanya.

    Kemampuannya untuk melangkah keluar dari pertahanan dan memberikan umpan, tidak bisa dipandang sebelah mata, yang pasti menyenangkan bagi rekan-rekan setimnya di lini serang. Kaki kirinya sering kali menjadi awal serangan Liverpool. Dan 14 gol selama kariernya untuk The Reds membuktikan bahwa dia lebih dari mampu untuk membuat gol dari tembakan.

    Tidak semua gol hadir dari sundulan di kotak penalti. Karena gol pertamanya bagi Liverpool tercipta setelah ia melangkah melewati garis tengah untuk melepaskan tendangan keras dari jarak 35 meter yang membuat Roy Carroll tidak berdaya.

    Setelah gol itu, pendukung Liverpool sepenuhnya menyadari apa yang bisa dilakukan Agger, teriakan ‘shoooooot’ dapat terdengar berdering di sekitar Anfield kapan saja Agger menerima bola di mana saja dalam jarak 50 meter dari gawang lawan.

    Dan The Kop melihat gol yang hampir mirip pada bulan April 2009 melawan Blackburn, gol yang Agger didedikasikan untuk 96 korban bencana Hillsborough, sikap yang menunjukkan bahwa dia adalah pemain yang selalu mengerti apa artinya bermain untuk Liverpool.

    Penampilan Berkelas di Anfield

    Mungkin penampilan Agger yang paling berkesan dalam seragam Liverpool datang di leg kedua semifinal Liga Champions 2007.

    Kekalahan 1-0 di Stamford Bridge di leg pertama berarti Liverpool memiliki sedikit ruang untuk melakukan kesalahan di leg kedua, dan dengan Agger dianggap bersalah atas gol Chelsea, itu membutuhkan performa fantastis dari pria asal Denmark ini di Anfield.

    Dia bagaikan seorang pria yang sedang menjalankan misi. Setelah berjuang untuk menahan Didier Drogba di leg pertama, ia tidak memiliki masalah menghadapi penyerang asal Pantai Gading di Anfield dan mencetak satu-satunya gol.

    Memanfaatkan bola dari tepi area penalti setelah tendangan bebas Steven Gerrard.

    Liverpool melanjutkan pertandingan itu untuk memenangkan pertandingan melalui adu penalti dan mengadakan pertemuan ‘ulang’ dengan AC Milan setelah final Istanbul yang terkenal pada tahun 2005.

    Agger memberi assist untuk gol Dirk Kuyt pada saat-saat sekarat dari laga ini, tetapi tidak ada dongeng yang berakhir indah pada kesempatan ini, karena mereka dikalahkan 2-1.

    Namun, sementara dia tidak berhasil mencicipi mendali Eropa, penampilan Agger di kompetisi ini adalah bukti kemampuannya untuk bersaing dengan beberapa bek terbaik di dunia pada saat itu.

    Agger Liverpool

    Warisan abadi

    Menyusul kedatangan Brendan Rodgers sebagai manajer, dan dengan cedera yang masih menghambat peluangnya untuk bermain, semuanya sedikit lebih jelas bahwa karier Agger di Liverpool mendekati akhir.

    Selama membela Liverpool, Agger mendapat tawaran untuk bergabung dengan Manchester City dan Barcelona tetapi dia tidak pernah ingin pergi. Dia setia, dan dia mencintai klub.

    Dan ketika Agger akhirnya terpaksa pergi, tidak mengherankan jika ia kembali ke Denmark dan membela klub masa kecilnya, Brondby.

    “Saya tidak akan pergi dari sini untuk pergi ke tempat lain dan itu telah dibuktikan dengan tindakan saya di musim-musim terakhir,” katanya.

    Dengan YNWA yang disandingkan di jari tangan kanannya, cukup adil untuk mengatakan tidak ada yang akan meragukan kesetiaan Agger kepada Liverpool.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here