Carlo Ancelotti – Pelatih Kaya Pengalaman

0
411

Siapakah pelatih yang pernah berhasil membawa timnya juara Serie A Italia, Liga Primer Inggris, Ligue 1 Perancis, dan Bundesliga Jerman? Ya, jawabannya bukan Josep Guardiola atau Jose Mourinho. Guardiola baru pernah menjuarai La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, dan Liga Primer Inggris. Sedangkan Mourinho baru pernah menjuarai Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, dan Serie A Italia. Masing-masing baru di tiga liga top Eropa. Pelatih yang pernah empat kali itu adalah Carlo Ancelotti, atau yang kerap disebut Don Carletto.

Don Carletto juga hanya satu dari tiga pelatih saja yang pernah menjuarai Liga Champions Eropa sebanyak tiga kali (dua kali bersama AC Milan dan sekali bersama Real Madrid). Ia juga hanyalah satu dari dua pelatih yang pernah membawa timnya lolos hingga babak final Liga Champions sebanyak empat kali. Rekor lainnya, ia telah memenangkan Piala Dunia Antarklub sebanyak dua kali, juga bersama AC Milan dan Real Madrid. Ia juga satu dari hanya sembilan orang saja yang pernah menjuarai Liga Champions sebagai pemain dan pelatih. Oleh karena itu, pelatih yang kini menukangi Napoli ini disebut sebagai salah satu pelatih paling sukses dalam sejarah sepakbola.

Sebagai pelatih, pria asal Reggiolo, Italia ini, sudah memegang sembilan klub berbeda, mulai dari Reggina, Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, Paris Saint-Germain, Real Madrid, Bayern Munchen, dan Napoli. Secara total ia telah mempersembahkan 20 trofi untuk seluruh klub yang pernah ditanganinya tersebut, mulai dari juara Piala Intertoto bersama Juventus tahun 2000 hingga menjuarai Piala Super Jerman bersama Bayern Munchen tahun 2017. Sementara untuk penghargaan pribadi ia telah mendapatkan 17 prestasi, mulai dari pelatih terbaik Serie A pada tahun 2001 hingga menjadi pelatih terbaik dunia versi Globe Soccer pada tahun 2014.

Don Carletto disebut sebagai murid terbaik pelatih legendaris Italia Arrigo Sacchi. Don Carletto menjadi asisten Sacchi di tim nasional Italia sejak tahun 1992 hingga 1995. Prestasi terbaik mereka adalah membawa Italia menjadi runner up Piala Dunia tahun 1994. Karena itu, sebagai pelatih, Don Carletto terinspirasi untuk memakai formasi 4-4-2 ala Sacchi ketika melatih. Ketika mengambil kursus pelatihan di Coverciano, Don Carletto pernah menulis artikel berjudul Il Futuro del Calcio: Piu Dinamicita atau Masa Depan Sepakbola: Semakin Dinamis. Hal itu menunjukkan orientasi Don Carletto yang tidak lagi memainkan pola 4-4-2 dengan kaku.

Oleh karena itu, Don Carletto tak ragu untuk mengubah posisi asli pemainnya untuk membuat permainan timnya lebih cair. Pada saat melatih Parma, misalnya, ia menggeser Gianfranco Zola dari posisi aslinya sebagai penyerang tengah menjadi sayap kiri. Dinamisnya pola 4-4-2 tersebut juga membuat Don Carletto mengubahnya menjadi 4-3-1-2 ketika menukangi Juventus, dengan tujuan untuk mengakomodir Zinedine Zidane sebagai pemain di belakang penyerang. Pola tersebut dipertahankannya ketika mulai menukangi AC Milan sejak tahun 2001.

Di AC Milan, ia pernah memiliki Rui Costa dan Rivaldo yang bisa memainkan peran tersebut. Bentuk dinamis yang ditunjukkan Don Carletto lainnya adalah ketika ia berani memindahkan posisi Andrea Pirlo dari gelandang serang menjadi gelandang bertahan. Belakangan Andrea Pirlo menjelma menjadi gelandang bertipikal deep-lying playmaker terbaik di dunia.

Mulai tahun 2006, Don Carletto kembali mengubah formasi andalannya menjadi 4-3-2-1, yang dijuluki sebagai formasi “Pohon Natal”. Ia mengubahnya karena kehilangan Andriy Shevchenko sebagai penyerang sehingga meninggalkan Filippo Inzaghi sebagai penyerang andalannya. Di belakang Inzaghi ia menempatkan Clarence Seedorf dan Ricardo Kaka sebagai gelandang serang. Formasi ini menjadi salah satu formasi paling menakutkan pada tahun-tahun berikutnya. Dengan puncaknya adalah ketika AC Milan menjuarai Liga Champions pada tahun 2007.

Kejeniusan Don Carletto berlanjut ketika ia pindah ke Chelsea. Tahun 2010 ia berhasil memberi gelar juara Liga Primer dengan raihan gol mencapai 103. Ini menjadikannya pelatih pertama di Liga Inggris yang membawa timnya meraih lebih dari 100 gol dalam semusim. Salah satu yang paling fenomenal adalah di pekan terakhir musim tersebut dimana Chelsea menggulung Wigan Athletic dengan skor 8-0, skor yang sangat jarang terjadi di level Liga Primer.

Kelebihan Don Carletto sebagai pelatih adalah versatilitasnya dalam menggunakan formasi apapun untuk timnya. Ia pun dapat menggunakan formasi 4-2-3-1 di Real Madrid dan 4-3-3 di Bayern Munchen dengan sangat baik. Ia telah berhasil membuktikan artikelnya tentang masa depan sepakbola yang dinamis tersebut. Hal itu membuat pelatih dengan tiga anak ini sebagai pelatih yang paling berpengalaman di dunia saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here