AFCON – Piala Antarbangsa Afrika

0
230
Foto Source: jacarandafm

AFCON (Africa Cup of Nations) adalah turnamen sepakbola tertinggi di benua Afrika yang diselenggarakan oleh CAF (Confederation of African Football). Turnamen ini pertama kali digelar pada tahun 1957 yang bertepatan dengan terbentuknya CAF sebagai konfederasi untuk asosisasi-asosiasi sepakbola se-Afrika. Sejak tahun 1968, turnamen ini dilaksanakan setiap dua tahun. Juara bertahan menjadi wakil dari benua Afrika untuk bertanding dalam Piala Konfederasi FIFA yang diadakan setahun menjelang penyelenggaraan Piala Dunia.

Ketika pertama digelar sebenarnya hanya ada tiga peserta: Mesir, Sudan dan Ethiopia. Afrika Selatan awalnya akan ikut tetapi batal karena kebijakan apartheid (diskriminasi atas kulit hitam). Pada tahun 1998, jumlah peserta baru mencapai 16 negara, mirip seperti Piala Eropa. Formatnya, 16 negara tersebut dibagi menjadi empat grup, dimana dua tim teratas akan melaju ke perempat final yang menggunakan sistem gugur. Tetapi sejak 2017, jumlah peserta ditingkatkan menjadi 24. Sejak 2017 pula, penyelenggaraan dilaksanakan pada pertengahan tahun. Sebelumnya AFCON dilaksanakan pada awal tahun.

Dari 32 penyelenggaran hingga saaat ini, Mesir menjadi tim tersukses dengan tujuh gelar juara yang diraih tahun 1957, 1959, 1986, 1998, 2006, 2008, dan 2010. Selanjutnya Kamerun dengan lima gelar juara yang diraih tahun 1984, 1988, 2000, 2002, dan 2017. Ghana di urutan ketiga degnan empat gelar juara yang diraih tahun 1963, 1965, 1978, dan 1982. Selanjutnya Nigeri meraih tiga gelar juara tahun 1980, 1994, dan 2013. Ada tiga negara yang sudah meraih dua gelar yakni Pantai Gading, Aljazair, dan Republik Demokratik Kongo. Lalu ada tujuh negara lain yang sudah pernah meraih satu gelar juara yakni Zambia, Tunisia, Sudan, Maroko, Ethiopia, Afrika Selatan, dan Kongo. Untuk pemain, Samuel Eto’o menjadi yang terbanyak mencetak gol yakni sebanyak 18 yang disarangkan selama enam turnamen.

Sepanjang penyelenggaraan tersebut sudah ada tiga piala berbeda yang diberikan kepada tim juara. Trofi pertama terbuat dari perak yang disebut sebagai Abdelaziz Abdallah Salem Trophy, yang mengacu pada nama presiden pertama CAF. Ghana menjadi pemegang trofi asli permanen yang pertama ini karena menjadi negara pertama yang meraih tiga gelar juara.

Trofi kedua diberikan antara tahun 1980 hingga 2000 dan dinamai Trophy of African Unity. Penamaan tersebut diberikan oleh Dewan Tertinggi Keolahragaan Afrika sebelum penyelenggaraaan AFCON tahun 1980. Yang khas dari trofi kedua ini adalah adanya sepotong silinder dengan cincin Olimpiade di atas peta benua Afrika yang terukir di atasnya. Kamerun menjadi pemengang permanen trofi ini karena juara ketiga kalinya pada tahun 2000.

Trofi ketiga yang digunakan hingga kini diselesaikan pada tahun 2001 di Italia. Trofi kali ini berlapis emas. Kamerun menjadi negara pertama yang mengangkat trofi ini setelah mempertahankan gelarnya pada tahun 2002. Tetapi Mesir berhak memiliki trofi setelah juara tiga kali beruntun sejak tahun 2006 hingga 2010. Tetapi kali ini Mesir hanya diberi replika trofi, sementara trofi asli tetap digilir pada pemenang-pemenang AFCON berikutnya.

AFCON tak jarang menjadi tempat bintang-bintang sepakbola Afrika menunjukkan bakatnya ataupun pemain-pemain muda potensial muncul. Sehingga tak jarang turnamen dua tahunan ini diamati oleh pemandu-pemandu bakat klub top di Eropa. Menurut situs 90min.com berikut ini adalah sebelas pemain terbaik dalam sejarah AFCON: Essam El Hadary (Mesir, pemain tertua yang pernah bermain di Piala Dunia yakni 45 tahun), Rigobert Song (Kamerun, pemain terbanyak tampil di AFCON sebanyak delapan edisi), Wael Gomaa (Mesir), Lauren (Kamerun, mantan pemain Arsenal), Siaka Tiene (Pantai Gading, bermain di tujuh AFCON antara 2002-2015), Geremi Njitap (Kamerun, gelandang yang jago tendangan bebas dan pernah juara Liga Primer Inggris dua kali), Abedi Pele (Ghana, salah satu anggota dari gelombang pertama pemain Afrika yang bermain di Eropa), Jay-jay Okocha (Nigeria), Samuel Eto’o (Kamerun), Mohamed Aboutrika (Mesir), dan Hossam Hassan (Mesir). Sementara untuk pelatih tersukses disematkan pada Herve Renard asal Perancis yang menjuarai AFCON dengan dua negara berbeda, Zambia dan Pantai Gading.

Sebagai turnamen sepakbola terbesar di Afrika, tercatat masih ada 12 negara yang belum pernah berpartisipasi di AFCON, yakni Afrika Tengah, Chad, Komoro, Djibouti, Eritrea, Eswatini, Gambia, Lesotho, Sao Tome & Principe, Seychelles, Somalia dan Sudan Selatan. Pada penyelenggaraan tahun 2019 yang dimenangkan Aljazair, tercatat tiga peserta debutan yakni Madagaskar, Burundi, dan Mauritania.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here